Obicham Te

     Aku sudah mencintainya selama 7 tahun. Tepatnya sejak kelas 1 SMA. Selama itu pula aku merasakan mencintai seseorang dalam diam. Bukannya tidak ingin mengungkapkan, hanya saja ia terlalu sempurna untukku. Ia pintar, ramah, humoris, tampan bahkan menjadi idola banyak orang terutama perempuan. Begitu banyak orang diluar sana yang memujinya. Sedangkan aku hanya perempuan biasa yang kehadirannya bahkan sering dilupakan.

     Kami sempat menjadi teman sekelas di kelas satu SMA. Tetapi saat pembagian jurusan kami terpisah. Aku di kelas IPA 3 dan dia di IPA 1. Lihatkan, dia memang murid yang cerdas. Aku selalu menghabiskan jam isturahat di ruang perpustakaan yang terletak di lantai dua. Bukan untuk membaca buku melainkan untuk melihat dia berkumpul bersama teman-teman di kelab basketnya. Dari jendela perpustakaan inilah aku bebas memandangnya di lapangan basket di bawah sana tanpa ketahuan.

Selain itu, dia juga menjadi salah satu tim peneliti sains di sekolah. Kalau untuk kelas yang satu ini aku juga berpartisipasi. Karena hanya dengan ini aku bisa berinteraksi dengannya.  Selama tiga tahun di SMA aku sudah melewati begitu banyak waktu hanya untuk mengaguminya dari jauh. Aku melihat dia diberikan cokelat oleh adik kelas, mengantarkan teman perempuannya pulang, bahkan saat perpisahan sekolah pun aku melihatnya bergandengan tangan dan berdansa dengan salah satu anggota cheers.

Aku pikir setelah lulus SMA dan masuk kuliah, aku bisa menemukan seseorang yang akan mengalihkan hatiku darinya. Ternyata aku salah. Bahkan di tahun terakhir kuliah pun aku masih belum bisa melupakannya. Ia melanjutkan kuliah arsitektur di universitas yang sama denganku. Kami memang hampir tidak pernah bertemu karena beda jurusan. Namun kabar tentangnya bisa terdengar hingga seantero kampus.

Terakhir yang kudengar ia sedang dekat dengan salah satu mahasiswa tingkat akhir dari jurusanku, ekonomi. Benar saja, seminggu setelah kabar itu tersebar aku melihat sendiri ia duduk di cafe bersama seorang perempuan. Bahkan yang mengejutkan, perempuan itu adalah teman dekatku. Teman yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Mengapa ia tega mengkhianatiku? Bukankah ia tahu kalau aku mencintai laki-laki itu?

Sejak aku melihat mereka berdua, aku selalu mencoba menghindari temanku itu. Meskipun aku masih berharap kalau kedekatan mereka tidak berarti apa-apa. Tetapi harapanku pupus begitu melihat mereka datang bersama di prom night setelah wisuda kampus. Hatiku hancur berkeping-keping. Tega sekali ia mengkhianati pertemanan kami selama empat tahun ini.

Aku sudah tidak kuat lagi. Aku harus mengakhiri ini semua. Aku harus belajar melupakan cintaku. Aku akan menerima tawaran pekerjaan di salah satu perusahaan di luar kota.

2 tahun kemudian…

Hari ini aku kembali ke kota kelahiranku. Dua tahun bekerja di salah satu cabang perusahaan akhirnya aku dipindahkan ke kantor pusat. Setelah perkenalan singkat tadi di sebuah rapat aku resmi menduduki jabatan baruku sebagai manajer keuangan di salah satu perusahaan arsitektur terbesar di kota ini.

Jam istirahat kantor aku manfaatkan untuk berkenalan dengan partner kerjaku. Saat aku sedang menikmati makan siangku tiba-tiba saja seseorang menghampiriku.

“Ine, ini kau kan? Kau masih ingat aku?”

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat orang yang menyapaku tadi. Betapa terkejutnya aku melihat orang yang ada dihadapanku ini adalah orang yang selama dua tahun ini ingin kulupakan meski tidak berhasil, Aldo.

Epilog

Aku tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Setelah dua tahun berlalu aku bisa bertemu lagi dengan laki-laki itu. Ternyata ia menjadi salah satu arsitek di kantor tempatku bekerja. Semua perasaanku padanya seakan bangkit kembali. Pertemanan diantara kami terjalin karena seringnya bertemu. Ia bercerita bahwa hubungannya dengan teman kampusku dulu hanya bertahan beberapa bulan karena ternyata temanku itu juga menjalin hubungan dengan teman kakaknya. Sejak itu ia tidak pernah dekat lagi dengan perempuan lain. Ia berkata ingin menemukan perempuan yang tepat dan sekarang ia sudah menemukannya.

“Ine, cepat selesaikan laporan keuanganmu itu, kita harus fitting baju terakhir kalinya setelah itu kita akan mengecek persiapan makanan dan gedung,” ajak Aldo.

“Huh, aku tidak pernah menyangka persiapan pernikahan akan sesibuk ini padahal aku harus menyelesaikan laporan keuangan ini secepatnya,” keluh Ine merespon ajakan Aldo.

“Sudahlah, jangan mengeluh. Bukankah besok kau akan menjadi Ny. Aldo? Aku berjanji setelah itu kau tidak akan mengurus laporan keuangan perusahaan lagi,” ujar Aldo meyakinkan Ine.

“Tentu saja, kau pikir setelah menikah dengan seorang arsitek kaya aku mau mengurus laporan keuangan yang melelahkan itu? Tentu tidak, aku hanya ingin dirumah menngurus kebutuhan suami dan anak-anakku lalu pergi ke mall untuk menghabiskan uang suamiku,” sahut ine disertai kekehan diujung kalimatnya.

“Baiklah, terserah kau saja.”

°°°

Begitulah cinta. Tidak ada yang tahu bagaimana dia datang. Tidak ada pula yang bisa menebak bagaimana akhirnya. Karena cinta adalah rahasia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s